Minggu
Hati Adalah Samudera Misteri
Alangkah luas samudera hati. Mengaku tlah menjelajahi dan menguasai segenap sudut hati adalah sebuah ketakaburan diri. Tak ada seorangpun yang bisa menancapkan bendera keangkuhannya, karena tak siapapun mampu menjangkau batas terjauhnya. Tak sesiapapun patut mengaku telah menaklukkan hati dan merasa aman dari gejolak dan amukannya. Gelombangnya tak dapat tertahan manakala ia datang. Menghantam tiba-tiba, dan mengombang-ambingkan jiwa dan menenggelamkannya hingga ke dasar samuderanya!
Duhai para pengembara, berhati-hatilah dalam melangkah. Sekali arus menarikmu, ia tak akan mudah melepasmu. Samudera hati menyimpan misteri yang bisa membelenggumu. Arus dalamnya akan menjeratmu, menggulungmu, mendekapmu..dan menghempasmu kemanapun ia mau. Dan dalam ketidakberdayaanmu, barulah engkau sadari bahwa hati tak pernah menyerahkan dirinya ke dalam kendalimu. Ia tetaplah samudera misteri yang tak bertepi, yang tak seorangpun bisa mengaku tlah menguasai...
...
Sabtu
melintasi waktu
Bahagia dan duka, kelapangan dan kesempitan sesungguhnya adalah karuniaNya untuk mendidik manusia. Agar ia dapat melihat bahwa waktu sangatlah berharga. Sebagaimana sehat dapat disadari manakala sakit. Sebagaimana bahagia dapat dihargai manakala duka melanda. Ia lah Al-Qabidh,..Yang Maha Menyempitkan. Dan Ia lah Al-Basith...Yang Maha Melapangkan...
Keluasan dan kelapangan adalah karuniaNya, sehingga kita bisa mewujudkan sebanyak-banyaknya kemungkinan yang mengantarkan kita semakin mendekatiNya. Kesempitan dan keterhimpitan adalah anugerahNya, untuk kita berhenti dari rasa besar diri dan ego yang menguasai...dan kembali bersimpuh menyadari, bahwa segala apa yang kita punya dan semua yang kita bisa raih adalah semata atas kehendak dan belaskasihNya Yang membukakan jalan-jalan sebab bagi pemenuhannya. Dan kita sejatinya tak memiliki kekuatan apa-apa untuk mendorong-menjauhkan ataupun menarik-mendekatkan. Laa hawla wa laa quwwata illa billaah...
Setiap saat adalah berharga....
Jumat
Suluk Sampan (4)
Tersentak sampan dari buaian, kesadarannya terbuka dan semesta seakan melingkupi menenggelamkan kediriannya.....Terpana dalam samudera pesona,
"Sembah kalbu(cipta) akhirnya hanyalah citra pantulan dari cahaya hakiki. Gusti Allah adalah Cahaya yang menampakkan segala, sementara yang lain adalah tiada secara asali. Citra dari pantulan sifat dan kehendakNya!!... bening cerminnya, tajam citranya. syareat membersihkan sang cermin, tarekat meminyaki mengkilapi.
Gusti Allah adalah awal dari cipta, kehendak, dan ikhtiar yang membawa kita dari satu titik ke titik berikutnya. Membentuk lintasan menuju kesempurnaan... menuju kepadaNYA !!.. Gusti Allah adalah awal dan Allah pada akhirnya. Demikian lengkapnya. .. Sangkan Paran !!..Subhanallaah!!...."
Sungai tersenyum, sambil melepas sampan ke samudera tujuan....
"Segara kinemu panggih,... samodera raya yang sebegitu luasnya saling bertemu pada kenyataannya. Pun kiasan bagi ilmuNya.
"Sinurat sinuruhmatu,... segala yang tersurat dalam semua kitabNya, termasuk ayat-ayat kauniyah yang tersebar di jagat raya ini, memang dimaksudkan sebagai rahmatNya bagi para pencari yang menemu. Gusti Allah membimbing kepada cahayaNya, siapa-siapa yang Dia kehendaki... "
..
Suluk Sampan (3)
Terkadang ia melewati kota-kota penuh bahagia, di mana keceriaan mewarnai sudut-sudut kota dan langit bertaburan gemerlap siang malamnya. Hanya ceria dan tawa. Lantunan lagu dan musik yang semarak tak henti mengisi udara. Semuanya terasa ringan. Anak-anak dengan kaki kecilnya berlarian di sepanjang bantaran menyoraki sampan dengan celoteh dan teriakan keriangan. Ah…betapa ringan sampan melaju seakan meluncur di atas permukaan minyak yang licin. Tanpa susah payah menggerakkan tubuhpun, ia melaju ringan seperti terbang…
Dan demikian bergantian kota duka dan tawa dijumpainya. Setiap kali mendekati kota duka, ia berusaha membelokkan diri menjauh darinya. Tapi arus demikian kuat mendorongnya dan memaksanya masuk ke dalam kubangan. Tak ada lagi yang bisa dilakukan. Hanya menyerah dan menjalani. Dan setiap kali melewati kota penuh bahagia, ia berusaha berhenti tuk sekedar singgah sejenak dan menikmati. Tapi sekali lagi arus demikian kuat mendorongnya dan memaksanya tuk terus melaju. Tak ada lagi yang bisa diperdebatkan selain diam menyerah.
"Lantas dimanakah 'kehendak' ?...Bukankah 'ikhtiar' menjadi sebuah kata semu untuk kodrat?..sehingga kita sesungguhnya adalah tiada?..", tanya sampan kecil kepada sungai, yang kepadanya ia telah menyerahkan arah pengembaraannya.
Sungai memecah diamnya. Setelah sekian lama ia dalam diam menuntun sampan kecil mengikuti setiap kelokan dan terjunan, membenturkannya ke kanan dan ke kiri, memaksanya berhenti diam ke dalam kubangan, mendorongnya, menahannya, menariknya, mengirimkan gelombang yang membolak-baliknya..
"Aku telah menuntunmu dengan benda-benda untuk menerima datangnya isyarat dan ilmu. Inilah petunjuk yang mengawali serangkaian tuntunan rahasiaNya, Ia berkenan menyingkapkan bershaf-shaf tirai misteri atas kesungguhan sebuah ikhtiar yang terus-menerus guna mendekat, dan ingin senantiasa dekat denganNya...
apa yang akan kukatakan adalah sebuah rahasia kehidupan. Simak dan dengarkan. Hati-hati…betapa jauh jarak antara mengetahui dan mengerti. Betapa lebih jauh jarak antara mengerti dan memahami. Dan lebih jauh lagi jarak membentang antara memahami…dan memiliki. Jangan takabur dan bangga dengan kekuatan akalmu. Apa yang akan kau dengar sekarang adalah untuk kau mengetahui. Untuk menjadi mengerti…kemudian memahami…apalagi memiliki….masih sangat jauh perjalanan yang harus kau lalui. Untuk memiliki hakekatnya ilmu, kau harus merasakan dulu sakitnya perjalanan, pedih-perihnya, hancur-leburnya, patah-pecahnya dirimu!..”
Sampan kecil diam terpana. Sebuah rahasia akan didengarnya. Sebuah rahasia yang mungkin akan menjadi jawaban atas semua kegelisahannya. Membuka kegelapan masa depannya, dan mengantarnya ke tujuan pengembaraannya. Tak sabar tapi juga khawatir ia, sanggupkah ia menerima anugerah ilmu terbesar sepanjang hidupnya? Akan kah ia bisa memahami?
Sungai menghentikan gerak dan arus membeku. Tak ada gelombang. Bahkan tak ada riak di permukaan. Hanya sampan kecil dan sungai yang membisikkan….“Dengarkan ini….”
“Kehendak adalah momentum tercetusnya cipta yang letusannya menggetarkan kalbu: hadirkan sesuatu dorongan/ rasa keinginannya menjemput sesuatu perubahan terjadi sebagai proses-kesinambungan menjadi kesempurnaan... yg akan terwujud sebagaimana kodratNya, atas iradatNya juga.Sebagai kata ungkap, 'ikhtiar', boleh saja disebut 'nama semu' bagi kodrati yang lantas terjadi tadi. Tetapi tidaklah semu dalam upaya-upaya menempuhnya! Dituntut kesungguhan yang nyata-nyata dilakukan: dengan badannya, pikirannya, dengan segenap perasaannya dalam mewujudkan niat dan hasrat hati, seiring berjalannya waktu dan segala perubahannya.Nah,.. disitulah pemaknaannya.
Sama halnya, syariat telah ditetapkan diwajibkan, 'syahadat tauhid dan syahadat rasul' kajiannya. Tarekat kurun pengembaraan pencarian keluasan/kedalaman pemahaman atas syareat dan memperteguh takwa dan keimanan. Hakekat rentang masa 'ngawula Gusti', mempusakai kebenaran-kebenaran hakiki yang menghidupkan keyakinan kita tadi, syahadatnya meningkat jadi 'syahadat wangi', paska jenjang itu, menggapai makrifat Islam: syahadatnya 'syahadat jati'.'hakekat ilmu', akan tumbuh menjadi 'ilmu-hakekat', yang hidup bersama kesejatian-hidup, ... 'Raga sejati', 'Rasa sejati', 'Suksma Sejati' ...!
Sampan kecil hanya diam. Kata demi kata seakan menenggelamkan dirinya dalam sebuah samudera yang maha dalam. Tak lagi ia bisa lihat dirinya. Ia telah sirna, hilang menyatu dengan air lautan. Di dalam lautan, butiran air menghilang lenyap menyatu dalam keseluruhan….
"Ketika hati telah tercerahkan, ketika nurani menjadi kemudi. Jika aku adalah AKU, bukankah iradat adalah juga kodrat? 'Tiada aku selain AKU', karena semua yang kutulis adalah kodratKU,.. yang menulis.. tangan, gerak, gagasan, ilham,... adalah kodratNya semata"
"Bershaf-shaf tabir misteri menyelumuri atas adaKU pada keberadaanku, di mana puncak kesadaran iman dan kemurnian tauhidKU meng-AKU 'Tiada Allah selain AKU'. Melalui hati yang berhati 'Hati', Ia pun berkata,
'hananira Hananing Sun, wujudira Wujuding Sun, Sawiji-wiji dadi saka karsaningsun,mahanani-maujud saka Pangwasaning Sun..'.
..
Suluk Sampan (2)
Dan jika bahagia ada di dalam hati? Bukankah sederhana sekali untuk mencapai bahagia yang dicari-cari? Kita hanya tinggal mengikuti kata hati, dan hati akan menuntun kita dengan sendirinya ke depan gerbangnya? Tapi bukankah seringkali kata hati berbenturan dengan kenyataan? Bukankah seringkali langkahnya berhenti di hadapan tembok besar bernama ketetapan dan takdir kehidupan? Apa yang dimaui hati tak mesti menjadi?...
Banyak tanya menggantung, tak dimengerti tak dipahami. Yang tinggal kini hanyalah keletihan pencarian. Sampan kecil bertanya lirih kepada sungai yang membawanya..
"Mana yg harus dipilih?: mengikuti kata hati?... atau.. berpuas diri dengan 'takdir' yang telah diberikanNYA?.."
Sungai masih seperti cermin. Arus menyembunyikan diri di bawah lapisan dan permukaan menjadi seakan diam dalam keheningan.
"Titik demi titik pada lintasan hidup telah dilukis pada kanvas asal segala asal... Itulah 'FAYAKUN', rahasia Gusti Allah dalam berkehendak dan kekuasaan mewujudkannya, yang setelah terjadi sebagai rangkaian kenyataan hidup seseorang di dunia, manusia menyebutnya sebagai 'takdir'. Apa yang kemudian terjadi, merupakan bagian dari 'kodrat'.
Makna 'KUN' adalah permohonan dan upaya-upaya luhur manusia dalam proses menyempurnakan diri dan harkat hidupnya dengan mencari ridlhoNya. Agar kenyataan hidup yang dijalaninya menuju 'jalan yang lurus' yang akan menemukan cahayaNya. Itulah 'Iradat' namanya "...
Sungai diam sebentar, memberi waktu bagi sampan untuk mencerna kata-katanya. Ia tahu bahwa tak mudah mengerti apalagi memahami. Ia baru saja mulai membuka jalan menuju sebuah rahasia abadi, yang hanya bisa dilalui oleh mereka yang tak melulu menggunakan akal tapi justru dengan kerendahan hati. Masih panjang jalan terbentang di depan. Mudah-mudahan sampan kecil yang dihantarnya telah siap mendengarkan. Sungai meneruskan dengan perlahan,
'Kata hati' ....adalah cetusan-cetusan si batin. Manakala jiwa kita telah mulai mengenal 'cahayaNya', batin yang berkata tadi, disebut 'Nurani' (Nuur: cahaya, aeni: mata penglihatan si batin yang semakin sempurna). Jelas pandangannya dikarenakan memperoleh pancaran cahayaNYA! Kata hati menjadi bisikan nurani. Kata hati masih berselimut debu hasrat diri dan hawa duniawi. Bisikan nurani....hanya ketenangan dan kepuasan yang terlahir dari "menatapNya" tak berkeputusan..yang mencetuskan isyarat dan tanda-tanda..petunjuk2 jalan menuju negeri bahagia yang didamba.
Tidakkah menjadi jelas bahwa: mensyukuri rahmat dan karuniaNya akan menjelmakan rasa puas juga? Mensyukuri apa yang telah diberiNya akan membersihkan batin dari hawa dan buruk sangka kepadaNya. Mensyukuri apa yang dimiliki akan membasuh batin dari debu hasrat, dengki dan keinginan. Mensyukuri apa-apa yang tak dimiliki akan memelihara rasa percaya kepada rencanaNya bagi kebaikan hati dan jiwa kita. Serangkaian rasa puas dari waktu ke waktu yang tak berkeputusan itulah rentang suasana batin yang bernamakan bahagia.
Cukuplah bicaraku hari ini, duhai yang mencari...."
Sungai seperti cermin. Arusnya sembunyi di bawah hening. Sampan kecil larut dalam waktu yang diam.
..
Suluk Sampan (1)
Kegelisahan tak lagi dapat ditahan. Sampan kecil yang tertambat terangguk-angguk di ujung jembatan bambu sungai ini merindukan jawaban. Ia pun menarik-narik tali tambatnya seirama arus yang memecah kaki-kaki jembatan bambu. Tak ada lagi yang bisa menahannya untuk pergi. Pergi jauh mengembara. Mencari kedamaian hati, yang tak pernah ia jumpai sejak terciptanya. Beberapa kali ia menarik ulur, simpul pun mengendur. Dan dalam kesekian kali sentakan, ikatannya terlepas. ia bebas !!..
Hatinya bersorak, ia menggoyang-goyang badannya yang kecil menjauhi jembatan. Terburu-buru menyambut arus sungai, seakan tak mau lagi dikejar dan diikat kembali ke kehidupannya selama ini yang tak pernah ia pahami. Arus sungai pun menyambutnya meriah, menciprat-cipratkankan airnya seakan ucapan selamat datang..."selamat datang, wahai hati yang mencari..."
Dan sampan kecil terus mengarus mengikuti kemana sungai membawanya. Hatinya begitu gembira tapi sekaligus penuh tanya. Kemana ia akan pergi? ke laut mana ia akan bertemu? Dalam resah pengembaraannya, ia bertanya kepada sungai yang membawanya,
"Apakah kita akan lebih bahagia jika kita mengetahui masa depan kita?..."
Jawab sungai dengan keluasan kedalamannya,
"Kebahagiaan, sesungguhnyalah telah menyertai rahmat Gusti Allah atas hidup kita ini. Tidaklah tertinggal di masa kanak ataupun kelampauan.Tidak juga hilang di tengah perjalanan menuju kedewasaan, hingga kekinian kita. Pun tidak pula terpisah jauh menghadang di masa tua ataupun keakanan kelak. Hanya saja, ia bersemayam di relung hati.
Menukiklah pada kedalaman syukur, akurkan pikiran dan perasaan dalam tafakur. Lalu rasakan bahwa senantiasa ia (=kharisma ghaib atas puja-puji yang menjelmakan ketenangan dan kedamaian hati) yang dibahasakan sebagai bahagia itu, menyertai setiap tarikan nafas kita.
Tak kekurangan sesuatu apa dan hanya itu yang dirasa, pun yang sesungguhnya bernamakan bahagia dalam makna sesungguhnya. Manifestasi surga yang dijanjikan Gusti Allah pada seluruh umatNya, telah bisa dirasakan kebenarannya begitu manusia mensyukuri nikmat berada dekat denganNya!
Kuncinya: mengenali jati diri yang sejati! Karena hanya bila manusia telah mengenal jati dirinya yang sejati, karunia nikmat batin bernamakan bahagia (rahmat karunia asali, hakiki, abadi atas ridhloNya) yang tiada putus-putusnya itulah pencapaian hakekat.
Syahadat paska ucapan! Si hamba bersaksi akan Tuhannya, dan Tuhan sendiri berkenan mengakui dan bersaksi akan hambaNya. 'Wruhanira, Sejatining Sun, Allah Pangeranira,.. tan sejatinira utusan Ingsun!'..."
Cintaku Pemalu
padahal sedang asik aku
berbisik mesra kepadaMU
kusembunyikan wajahku
padahal sedang kurasakan hangatnya
air mata membelai kedua pipiku
saatku memandangMU
kututup mulutku
padahal sedang tenggelam aku
dalam irama mengukir ucapanMU
cintaku kepadaMU, duh Gusti
sebuah cinta yang pemalu
Melihat Takdir
Kita memohon kepadaNya agar membuat kita ridla dengan keputusanNya dan sabar dengan apa yang kita alami. Penderitaan atau ketersesatan adalah jalan sebab kepada rasa butuh kita, sehingga kita mau bertaubat dan berdoa kepadaNya, menangis dan mendamba kedekatan serta perhatianNya. Subhanallah. Sesungguhnyalah amal dan kebutuhan kita bukanlah penyebab kemurahan dan rahmatNya. Mereka ada hanya untuk mengurangi rintangan dan hijab di depan hati kita, sehingga kita menjadi bisa melihat kemurahanNya. Takdir kita...adalah hasil dari bertumpuknya ketetapan, yang saling berhubungan dengan sarana sebab akibat. Sedangkan rahmat, cinta, dan keadilanNya adalah kekal abadi.
Cinta, ampunan, dan rahmatNya telah mendahului semua eksistensi.
Amal kita mengikuti papan petunjuk jalan, padahal sebenarnya kita telah ada di kotaNya !
Subhanallah...
Kebaikan Dalam Tataran Ilahiah
Sesungguhnya realita tidak berhenti di saat ini, pada detik ini. Dalam tataran keilmuan ilahiah, realita berjalan dan menyebar jauh melintasi ruang dan waktu. Bahkan jauh melampaui umur hidup kita.
Berbaik sangkalah kepada IA Yang Maha Rahmaan, yang telah menciptakan makhluq dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Berbaik sangkalah kepadaNYA yang telah memelihara kita selama ini, dan dengan diam-diam telah memenuhi semua kebutuhan kita. Maha suci Gusti Allah dari sifat-sifat yang jahat dan buruk. Sesungguhnya kasih sayangNya kepada makhluqNya melebihi cinta kasih kedua orangtua mereka. Demi Allah, bahkan sayap nyamuk menggetarkan kesaksian kepada kesucianNya !
Bahkan ketika IA mengambil kembali puluhan ribu, ratusan ribu, atau bahkan jutaan jiwa dari kita. Subhanallah, IA Maha Suci dan Maha Mensucikan…Allahu Al-Quddus. Allohu al-Muqaddas.. Semua kejadian adalah kehendakNya melalui jalan-jalan sebab yang dihamparkanNya. Semua untuk kebaikan kita. Meskipun akal dan perasaan manusiawi kita menyematkan nilai kekejaman, kesadisan, kepedihan, dan penderitaan kepada kenyataan pahit yang terhampar. Meskipun rasa kemanusiaan kita senantiasa menolak bencana ketika itu terjadi, memberontak dan bahkan seringkali menyalahkanNya.
Sesungguhnya IA Maha Mengatur dan Memelihara seluruh ciptaanNya. Semuanya. Tanpa terkecuali. Dalam kebaikan, untuk kebaikan, dengan kebaikan. Semua aturan hidup dibentangkanNya untuk memuliakan manusia di dunia ini. Dalam rahasia rencana-rencanaNya, semua kebaikan mengalir menyelimuti kehidupan manusia semuanya.
Dan ketika kita melihat banyak wajah kecil dengan tangan-tangan kecil, dan banyak orang baik, dan wanita, dan para orang tua, dalam barisan jiwa yang kembali itu…Maka sesungguhnya Gusti Allah lebih mengetahui kesucian dan kebaikan sebesar zarrah dari makhluqNya. Dan IA tak pernah berlaku zhalim terhadap sebesar zarrah kebaikan dan kesucian.
Minggu
Orang Biasa
Jadikanlah aku orang biasa-biasa saja,
dengan sedikit kemampuan untuk berzikir tentangMU di tengah kecintaanku kepada dunia
Jadikanlah aku orang biasa,
dengan hati yang sekedar bisa bergetar saat membisikkan namaMU
untuk sekedar bisa menangis dalam berdoa kepadaMU
Jadikanlah aku orang biasa,
dengan sekedar harapanakan ampunan dan belas kasihMU
saat kunikmati riya' dan berbangga diri
Jadikanlah aku orang biasa, yang kutahu tak mampu menjaga mata, mulut, telinga
dan hatiku,selain memohon MU untuk menjagakannya untukku,
dari segala hal yang menjauhkanku dariMU
Jadikanlah aku orang biasa,
yang Engkau tempatkan aku di shaft paling belakang
dalam barisan orang-orang yang menyenandungkan puji kepadaMU
yang tenggelam dalam kesejukan ramadhan tahun ini,
di ujung terjauh halaman istanaMU...
Ya Allah,Jadikanlah aku orang biasa-biasa saja...
Rantai I'tikaf Sepanjang Pulang
di malam keduapuluhtujuh, malam keduapuluhdelapan, dan malam keduapuluhsembilan,
dan menetapnya (i'tikaf) engkau dalam laju kendaraan, dikaruniai kelapangan dan kemudahan.
Dan seandainya perjalananmu diwarnai oleh antrian kendaraan yang tak kunjung putus,
maka ingatlah bahwa seribu kendaraan di depan dan di belakangmu, sembilan ratus sembilan puluh sembilan darinya mungkin sedang tenggelam dalam zikir: lantunan nasyid raihan penuh tasbih, tahmid, dan takbir; keceriaan shalawat Tasya dan Maissy; keindahan qira'a; lautan hikmah dalam rekaman ceramah aa gym, kelembutan la preghiera (the prayer) andrea bocelli; atau sekedar mensyukuri kebaikan Allah dalam buaian mimpi indah.
Sebuah majlis i'tikaf terpanjang di dunia! yang untaian zikirnya naik ke langit dengan tiada putus dari darat, laut dan udara. Alangkah beruntungnya. Insya Allah....
Dan sebagai balasan rasa ketakjubannya,malaikat jibril radhiallahu anhu mengembangkan sayapnya membentang sepenuh horizon, dan dari setiap helai bulu sayapnya yang berpendar menerangi langit malam, menetes jutaan butir cahaya bagai hujan yang menyirami para pemudik, membasuh mereka dengan kemuliaan seribu bulan dari lailatul qadr yang dijanjikan.Subhanallah....
Selamat lebaran. Selamat kembali kepada keawalanmu: ruh-ruh yang bersaksi kepada eksistensi rububiyah: Ketuhanan Yang Maha Mengawali Segala Penciptaan, Yang Maha Penuh Kasih Sayang, Yang Maha Memelihara Segala Ciptaan, Yang Maha Mengetahui Kebaikan Dari Segala Rahasia Kehidupan.....
Taqabbalallahu minna wa minkum,Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Rabu
ruhmu merindu
"Ya, Gusti Allah..Engkaulah Tuhanku, Penciptaku, dan Pemeliharaku...". Dan kemudian ruh bergantung kepada jasad, maka dengan IzinNya engkau melupakan janji dan kesaksianmu kepadaNya.
Subhanallah. Sesungguhnyalah jauh di balik siapapun kita, ruh kita terus merindukan negeri asalnya. Ia senantiasa ingin kembali ke sana, kembali ke wujud terbaiknya. Siapapun kita. Di balik keterlenaan kita dalam alam jasadi ini, di dalam keterhanyutan kita dalam banyak hasrat, nafsu, dan keinginan diri, di bawah tekanan ambisi dan kebutaan hati, ruh kita terus merintih meminta kembali..
"duh,Gusti...duh,Gusti...betapa aku sangat merindukanMu...bebaskan aku dari penjara yang membelenggu..lepaskan aku dari jerat yang menahanku! duh,Gusti...aku menangis dalam keterpaksaan ini...hasrat diri membawaku ke tempat-tempat yang kutakmau... menjauhiMu...keinginan diri memaksaku melakukan apa-apa yang kutak setuju...mengoyak kesucianku...merobek kemuliaanku!! duh, Gusti...dengar rintihku..betapa aku merinduMu..."
Subhanallah. Di balik siapapun kita, ruh kita terus merindukan negeri asalnya. Dengarkan ia, kasihanilah ia, dan penuhilah keinginannya. Hantarkan ia menaiki setiap jenjang alam kembali ke wujud terbaiknya. Demi Allah, jika engkau bisa mendengar rintihannya, maka hanya Gusti Allah keinginannya. Tidak yang lainnya. Jika engkau bisa mendengar tangisnya, maka hanya Gusti Allah isi kerinduannya. Bukan yang lainnya.
Subhanallah..
kembaliku
Duh Gusti, semua selainMu yang kusandarkan diriku kepadanya untuk memperoleh apa yg kuinginkan di dunia ini tak ada yang bersedia menemaniku dan mereka berpaling dariku. Di manakah mereka ketika aku membutuhkan teman dalam akhir perjalananku yang sepi ini? Bahkan keluargaku hanya dapat menemaniku hingga batas butiran tanah terakhir dan helai daun bunga yang mereka tebarkan di atas diriku...
"Duh,Gusti..hanya ampunanMu yang kuharapkan,
duhai Yang Maha Agung yang Tiada Tuhan melainkan Engkau.
Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri
dan tak membutuhkan siapapun untuk keberadaanMu.
Inilah diriku. Sendiri...
yang bertaubat kepada keMaha Rahmaan RahiimanMu,
yang bertaubat sebagaimana taubatnya hamba yang berlaku zhalim dan berselimut dosa.
yang bertaubat kepadaMu sebagaimana taubatnya hamba yang tiada memiliki daya dan kekuatan untuk berbuat kebaikan ataupun keburukan.
yang bertaubat kepadaMu sebagaimana taubatnya hamba yang tiada berdaya untuk memiliki hidup ataupun mati ataupun saat kebangkitan nanti.
Ya Allah, aku mohon ampunanMu duhai Dzat Yang Maha Agung.
Maha Suci Engkau dengan segala KebesaranMu dan sepenuh puji-puji hanyalah untukMu..."
(untaian doa setelah dua raka'at sholat taubatku)
a Gift of Honor
"Allahu Zul-Jalali wal-Ikram..."
Duhai Gusti, Engkaulah pemilik segala keluruhan dan kemurahan....
Empatpuluhributahun berlalu dan selama itu pula ruh memujiNya. Kemudian IA mencipta cermin dan diletakkanNya di hadapan Ruh Kanjeng Nabi kekasihNya, sehingga kini ia bisa melihat wujudnya. Dalam keterpanaan sang ruh memandang citra keindahan dan kesempurnaan dirinya, lima kali ia berucap syukur menerima anugerahNya,..
"Shukran lillaahi ta'ala"... terima kasih duh Gusti, Yang Maha Tinggi.....
dan pada setiap kali ucapan syukur ia tersungkur bersujud, sepenuh pengagungan dan penghambaan sembari bertabish mensucikan asmaNya,
"Subhanal-aliyyul-azhim, wa la yajhalu"... Maha Suci Engkau, Yang Maha Sepenuh Kuasa lagi Maha Tinggi, Yang tak ada sesuatupun luput dariMU..
"Subhanal-halim alladzi la yu'ajjalu"... Maha Suci Engkau, Yang Maha Penuh Keadilan lagi Maha Penuh Kesabaran...
"Subhanal-jawad alladhi la yabkhalu"... Maha Suci Engkau, Yang Maha Pemurah lagi Maha Pemberi...
Subhanallah, demikianlah lima waktu bersujud dalam seharisemalam merupakan anugerah tanda penghormatan dari Gusti Allah SWT kepada umat Kanjeng Nabi saw.
***
disarikan dan dibahasakan kembali dari wejangan Syeikh Maulana Hisyam Kabbani dan Syeikh Nazim Ad'l alHaqqani
http://naqshbandi.org/frmteach.htm
Marhabban
Dan arsy-pun bergetar dalam lautan tasbih mensucikan asmaNya, ketika tangan ribuan malaikat suciNya bergantian menyangga nur yang benderang tak menyilaukan itu. Mereka membawanya dengan sentuhan penuh kelembutan...menuruni satu demi satu lapisan langit hingga ke langit dunia. Dan semesta tenggelam dalam lautan tasbih mensucikan asmaNya...Subhanalloh.. dalam samudera tahmid penuh syukur kepadaNya...Alhamdullillah...dalam lautan tahlil mengesakanNya..Laa ilaha illa Allah....dalam samudera takbir membesarkan asmanya....Allahu Akbar!!.... Maka bergemuruh tiap lapisan semesta sepanjang perjalanan nur penuh kemuliaan....hingga nur itu diletakkanNya dalam rahim sang Ibunda.
Dan ketika waktunya telah menjelang tiba, maka ribuan bidadari bercahaya bersama dengan dua wanita mulia menemani ibunda kanjeng Nabi, menenangkan, dan menghiburnya. Siti Asiyah, yang telah dimuliakanNya dalam pengorbanan jiwa di hadapan sang suami Firaun sang raja. Siti Maryam, yang telah dimuliakanNya dalam kesucian sejak lahir dan sepanjang hayatnya. Keduanya dan ribuan bidadariNya bak selimut cahaya berdiri mengelilingi sang Ibunda. Menanti detik-detik yang mulia. Dan ketika dengan izin Gusti Allah, ruh membangkitkan jiwa, maka mewujudlah Kanjeng Nabi Muhammad... maka seluruh mereka bershalawat kepadanya..
Ya nabi salam 'alayka, ya rasul salam 'alayka, ya habib salam 'alayka, sholawatullahi 'alayka... Marhabban, ya nurul 'aini..
Duhai,Nabi..salam sejahtera bagimu. Duhai,rasul..salam sejahtera untukmu.
Duhai, kekasih..salam sejahtera untukmu. Shalawat Allah bagi dirimu....
Selamat datang, duhai cahaya awal dari segalanya...
Mukadimmah Semesta
"Duh Gusti, dengan apa hamba harus mengawali tulisan kehidupan ini?.", tanya sang Pena kembali.
Maka dengan penuh pengabdian dan penghormatan, sang Pena menggoreskan dirinya pada lembaran pertama Kitab Kehidupan. Menuliskan untaian kata pertama sebagai pembuka semua lintasan nasib, takdir, dan sejarah kehidupan. Bismillaah Ar-Rahmaan Ar-Rahiim..... terselesaikan dalam tujuh ratus tahun waktu penulisan. Subhanallah.
Dan bertitahlah Gusti Allah SWT kepada Pena,
Subhanallah..
Bapak Para Ruh
"Wahai malaikat utama, berapa lamakah waktu berlalu sejak ruhku diciptaNYA hingga mewujudku?",
tanya Kanjeng Nabi Muhammad saw kepada Jibril. Dengan penuh penghormatan Jibril menjawab, "Betapa aku tak mengetahui dengan pasti jumlah tahunnya. Yang kutahu, bahwa setiap tujuhpuluhribu tahun akhirah seberkas cahaya dahsyat memancar dari balik puncak Tahta KeagunganNYA. Cahayanya begitu gemerlap, indah tapi tak menyilaukan penglihatan. Dan sejak aku dicipta, pancaran cahaya itu telah duabelas ribu kali terjadi."
"Tahukah engkau apakah cahaya itu?", tanya Kanjeng Nabi saw.
"Aku tak mengetahui, apakah itu?", tanya Jibril.
"Sesungguhnya cahaya itu adalah cahaya ruhku yang telah diciptaNYA terdahulu.."
IA mencipta ruh Kanjeng Nabi saw kemudian meletakkannya di dalam sebuah lampu emerald hijau, yang digantungkannya pada Syajaratul Kaun Pohon Kepastian. Kemudian dengan perintahNYA, maka ruh Kanjeng Nabi saw melantunkan Asmaul Husna nama-nama indahNYA sebagai tanda pengagungan tertinggi untukNYA. Seribu tahun akhirah untuk setiap asmaNYA.
Ketika tiba pada asma Ar-Rahmaan (Yang Maha Pengasih), maka darinya tercipta ruh para Nabi as. Ketika tiba pada asma Al-Qahhar (Yang Maha Perkasa), maka darinya tercipta ruh para Malaikat Suci. Kemudian darinya pula Gusti Allah SWT mencipta semesta ruh, ruh para manusia yang mengimani maupun ruh para manusia yang mengingkari. Demikianlah mengapa Kanjeng Nabi saw juga dinamai "Abu Arwah", Bapak para arwah/ruh.
Maka semesta ruh berkumpul mengelilingi ruh Kanjeng Nabi saw, mengitarinya dan menyampaikan penghormatan kepadanya selama seribu tahun akhirah. Kemudian dengan perintahNYA, mereka berbaris berlapis empat: ruh para nabi dan rasul pada baris pertama, ruh para Awliya pada baris kedua, ruh mereka yang mengimaninya pada baris ketiga, dan ruh mereka yang mengingkarinya pada baris keempat. Demikianlah semesta ruh seluruhnya tetap tinggal di alam ruh di sisi Gusti Allah SWT hingga gilirannya tiba..untuk mewujud ke dunia. Subhanallah...
Allahumma Shalli 'ala sayyidina Muhammad...Allahumma shalli 'alayhi wa sallim...
Cahaya Awal Semesta
"Apakah yang pertama kali IA cipta sebelum diciptaNya segala yang ada?..",
tanya seorang Sahabat ra kpd Kanjeng Nabi Muhammad saw. "Cahayaku, duhai Sahabat. Nur Muhammadiyah yang diciptaNya dari Maha CahayaNya. Bahkan sebelum diciptaNya Pena (Qalam) penggurat takdir, sebelum diciptaNya Kitab Kehidupan (Lauh al-Mahfuz), sebelum surga dan neraka, sebelum para malaikat, sebelum langit dan bumi, sebelum bulan dan matahri, sebelum jin dan manusia. Hanya Cahayaku." Maka dengannya kemudian tertampakkan semesta...
Dari Cahaya itu kemudian Gusti Allah memecahnya menjadi empat bagian. Dari bagian pertama IA mencipta dan menampakkan Pena. Kitab Kehidupan Lauh al-Mahfuz IA cipta dari bagian kedua. Dari bagian ketiga IA mencipta Arsy, singgasana. Kemudian IA memecah lagi bagian keempat menjadi empat bagian.
Dari bagian pertamanya, IA cipta para malaikat penyangga Arsy singgasana. Al-Kursy, balairung Kerajaan, IA cipta dari bagian kedua. Dari bagian ketiga, IA cipta para malaikat penghuni alam tinggi. Kemudian IA memecah bagian keempat menjadi empat bagian lagi.
Dari bagian pertama cahaya, maka Langit diciptaNya. Sementara Bumi dari bagian kedua. Jin dan api dari bagian ketiga. Dan sekali lagi IA memecah bagian keempat menjadi empat bagian lagi.
Dari bagian pertamanya, IA mencipta cahaya yang menjadi tanda dari manusia yang mengakui IA dan keMahaKuasaan-Nya. Dari bagian kedua, IA mencipta cahaya yang ditanamkanNya di dalam hati setiap manusia..yang senantiasa mengilhamkan pengetahuan ilahiah untuk Kebaikan dan Kesucian mereka. Dari bagian ketiga, IA mencipta cahaya yang IA basuhkan pada setiap lidah untuk melisankan kalimat meng-Esa-kanNya (Tauhid). Dan dari bagian keempat akhirnya, IA cipta beragam cahaya, yang dengannya ruh Kanjeng Nabi saw berhias cahaya cahaya. Subhanallah ...
Ya nabi salam 'alayka, ya rasul salam 'alayka, ya habib salam 'alayka, sholawatullahi 'alayka...Marhabban, ya nurul 'aini..
Duhai,Nabi..salam sejahtera bagimu. Duhai,rasul..salam sejahtera untukmu.
Duhai, kekasih..salam sejahtera untukmu. Shalawat Allah bagi dirimu....Selamat datang, duhai cahaya awal dari segalanya...
bagaimana aku mencintaimu?
"Siapa yang bersholawat atasku sekali, Gusti Allah akan bersholawat padanya sepuluh kali"
(Hadits, Riwayat Muslim dan Abu Dawud)
Seandainya sepanjang hidup engkau melakukan seluruh amal ketaatan, lalu Gusti Allah memberikan satu sholawat saja atasmu, maka satu sholawat itu adalah melebihi nilai semua amal ketaatan yang engkau lakukan sepanjang hidupmu. Sebab, engkau bersholawat sesuai dengan kapasitas kemanusiaanmu. Sementara Gusti Allah bersholawat untukmu sesuai dengan Rububiyah (keMahaMuliaan sifat Ketuhanan)-Nya. Dan itu baru satu sholawat!
Lalu, bagaimana jika Gusti Allah bersholawat untukmu sebanyak sepuluh kali atas setiap satu sholawat yang engkau hadiahkan kepada Kanjeng Nabi saw?
"Allahumma Shalli 'ala sayyidina Muhammad..Allahumma shalli 'alayhi wa sallim..."
Sumber: Ibn 'Atha'illaah as-Sakandary, "Bahjat al_nufuus", "Tutur Penerang Hati", Serambi.
The Seekers
to unveil the unseen of The Most Seen
to find the hidden of The Most Existent
to quest the wondrous of The Most Obvious
