Sabtu

Di Akhir Waktu


Suatu ketika Kanjeng Nabi Ibrahim bertanya kepada Izrail, "Ya Malaikat Maut, apa yang kau lakukan ketika ada orang yang telah tiba waktunya di Timur dan lainnya di Barat..?". Malaikat Maut menjawab, "Duhai Pesuruh Gusti Allah, nama orang-orang ini tercatat di dalam Lembaran yang Terjaga, Lauh Mahfuzh. Di dalam mana seluruh nasib manusia ditulis. Aku menatapnya tak putus-putus. Ia memberitahuku saat kapan masa hidup setiap makhluq hidup di bumi sampai ke penghabisannya, manusia atau binatang semuanya.


Di sebelah sisiku ada sebuah pohon, yang dinamai Pohon Hayat (Pohon Kehidupan). Ia diliputi oleh dedaunan kecil yang banyak sekali, lebih kecil dari daun zaitun, dan lebih banyak lagi. Kapan saja seorang manusia lahir di bumi, pohon itu menumbuhkan sehelai daun baru, dan di atas daun itu dituliskan nama orang tersebut. Dengan pohon itu aku mengetahui siapa yang lahir dan siapa yang mati. Ketika seorang menjelang mati, daunnya mulai melayu dan mengering, dan ia jatuh dari pohon ke atas Lauh Mahfuz. Lalu nama orang ini dihapus dari lembarannya..."

"Peristiwa ini terjadi 40 hari sebelum kematian sebenarnya dari orang itu. Kami diberitahu empat puluh hari sebelum hari kematian itu tiba, dan orang itu sendiri mungkin tahu dan mungkin tidak tahu dan menjalani kehidupannya dengan penuh harapan dan rencana-rencana. Namun, hanya empat puluh hari yang tersisa dalam hidupnya, dan setelah itu tidak ada lagi ketentuan baginya di dunia ini..."


"Maka aku memanggil arwah mereka lewat dedaunan yang ditumbuhkan oleh Gusti Allah itu, hingga mereka hadir di sini di hadapanku. IA menuliskan di atas telapak tanganku huruf-huruf cahaya, 'Bismillaahirrahmaanirraahiim..Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang'. Dan IA memerintahkan kapan saja aku harus mencabut nyawa seseorang yang mengenaliNya, untuk menunjukkan huruf-huruf cahaya itu..yang menyebabkan nyawa mereka keluar dari jasad sebagaimana besi tertarik oleh magnet,....atau seperti cahaya kembali kepada sumbernya..."

Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani, mursyid Thariqah Naqshabandy-Haqqani, Amerika Serikat. http://naqshbandi.org/frmteach.htm

Semua Ada Waktunya

"Tertundanya pemberian setelah engkau mengulang-ulang permintaan, janganlah membuatmu berpatah harapan. IA menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang IA pilih buatmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang IA kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini."


Seringkali kita menggedor-gedor pintuNya untuk segera memberikan apa yang kita minta. Padahal, sesungguhnya IA pasti menjawab doa para hambaNya yang penuh kerinduan dan permohonan yang keluar dari hati yang ikhlas. Rasa butuh yang IA lahirkan di hati kita, dan lisan permohonan akan pertolonganNya sesungguhnya mewujud dari kehendakNya untuk membawa kita mendekat kembali kepadaNya. Maka, waktu dan cara IA membalas doa pun tergantung padaNya.

Yang perlu dilakukan oleh makhluk adalah berdoa, bergantung, dan percaya kepada cara-cara yang maha sempurna dari Sang Pencipta, Sang Pemelihara alam yang tampak maupun ndak tampak oleh panca indera. Gusti Allah senantiasa mengetahui keadaan kita yang sebenarnya, zahir kita, batin kita. Juga kebutuhan-kebutuhan kita serta perbekalan apa yang paling tepat buat kita dalam perjalanan menujuNya. Termasuk pula waktu yang paling tepat untuk kebaikan kita.

Al-Hikam Ibn Atha'illah As-Sakandary (w 1309M). Syarah by Syeikh Fadhlalla Haeri

Ruhmu Merindu

Tidakkah kau ingat tentang negeri asalmu? Tempat pertama di mana IA menciptakan semua ruh dalam wujud hakiki yang paling baik di alam lahut, ketika namamu adalah ruh qudsi. Kemudian IA memberimu pakaian dari cahaya alam jabarut dan menurunkanmu ke alam yang lebih rendah lagi, dan namamu adalah ruh sulthoni. Dan darinya IA kemudian membungkusmu lagi dengan pakaian cahaya malakut, dan menurunkanmu ke alam yang lebih rendah lagi dan namamu adalah ruh rowani. Dan kemudian IA melapisimu dengan pakaian cahaya al-mulk, dan menurunkanmu sekali lagi dan namamu kini adalah ruh jasmani.

Dan kemudian IA menciptakan jasad sebagai pakaian terluarmu, maka engkau semua memasukinya dengan perintahNya sambil bersaksi kepadaNya.."Ya, Gusti Allah..Engkaulah Tuhanku, Penciptaku, dan Pemeliharaku...". Dan kemudian ruh bergantung kepada jasad, maka dengan IzinNya engkau melupakan janji dan kesaksianmu kepadaNya.

Sesungguhnyalah jauh di balik siapapun kita, ruh kita terus merindukan negeri asalnya. Ia senantiasa ingin kembali ke sana, kembali ke wujud terbaiknya. Siapapun kita. Di balik keterlenaan kita dalam alam jasadi ini, di dalam keterhanyutan kita dalam banyak hasrat, nafsu, dan keinginan diri, di bawah tekanan ambisi dan kebutaan hati, ruh kita terus merintih meminta kembali..

"Duh,Gusti...duh,Gusti...betapa aku sangat merindukanMu...bebaskan aku dari penjara yang membelenggu..lepaskan aku dari jerat yang menahanku! duh,Gusti...aku menangis dalam keterpaksaan ini...hasrat diri membawaku ke tempat-tempat yang kutakmau...menjauhiMu...keinginan diri memaksaku melakukan apa-apa yang kutak setuju...mengoyak kesucianku...merobek kemuliaanku!! duh, Gusti...dengar rintihku..betapa aku merinduMu..."

Di balik siapapun kita, ruh kita terus merindukan negeri asalnya. Dengarkan ia, kasihanilah ia, dan penuhilah keinginannya. Hantarkan ia menaiki setiap jenjang alam kembali ke wujud terbaiknya. Demi Allah, jika engkau bisa mendengar rintihannya, maka hanya Gusti Allah keinginannya. Tidak yang lainnya. Jika engkau bisa mendengar tangisnya, maka hanya Gusti Allah isi kerinduannya. Bukan yang lainnya ...

Lupakan Saja


Kesalahan sebesar apapun janganlah menghalangi dirimu dari berbaik sangka kepadaNya, karena tak ada dosa yang terlalu besar di hadapan keMaha Rahmaan dan RahiimanNya. Jika kita masih mengandalkan amal kita dalam mengharapkan kasihsayangNya, maka kita akan menjadi pesimis dan patah harapan manakala kita berbuat salah sementara amal kita rasanya baru sedikit. Padahal kepadaNya lah kita semestinya bergantung. Karena mengandalkan amal, malah bisa melahirkan rasa kesombongan spiritual. Menyandarkan diri kepada amal dan ketaatan kita yang banyak, malah bisa melahirkan perasaan paling benar dan paling dekat kepadaNya.

Gusti Allah lah yang Maha Berkehendak, dan IA berkehendak memilih siapapun yang IA kehendaki. Kesalahan yang kita alami hanyalah peringatan untuk memperkuat kesadaran kita sebagai hamba yang penuh kelemahan dan kelalaian. Ketersesatan kita adalah pembangkit kesadaran akan kehendak, rahmat, dan kemurahanNya. Kebesaran ampunan Gusti Allah tidak bisa dilampaui oleh seluruh dosa-dosa hambaNya. Ampunan Gusti Allah lebih agung, lebih besar, lebih kinasih pada hamba-hambaNya yang bertobat.

Maka, lupakanlah kesalahan dan ketersesatan di masa lalumu. Menyebut-nyebut suasana musim kemarau di tengah musin hujan, sama halnya dengan musim kemarau itu sendiri. Taubat adalah melupakan dosa-dosa masa lalumu. Bagaimana bisa, hati yang telah dipenuhi oleh asmaNya dan mengingat kasihsayangNya akan mengingat selainNya??...

Selasa

Baru Satu Bagian

Sesungguhnya Gusti Allah menciptakan kasih sayang dalam seratus bagian. Satu bagian darinya IA berikan kepada makhlukNya semuanya, tanpa terkecuali. Dan sembilan puluh sembilan bagian IA simpan bagi diriNya.

Maka dari satu bagian itulah alam semesta beserta isinya memiliki rasa saling mengasihi dan saling menyayangi. Manusia, flora, fauna, dan semua makhluq hidup yang nampak maupun ndak nyata memiliki rasa kasih dan cinta. Dan dengan satu bagian itu, seekor induk binatang pun melangkah dengan hati-hati....mengangkat satu kakinya karena takut menginjak dan menyakiti anak-anaknya.

Maha Suci Gusti Allah Yang dengan keMaha Rahmaan RahiimanNya telah menciptakan apa-apa yang ada di langit, di bumi, dan di antara keduanya dengan kasih sayang yang paling sempurna. Tak luput satu makhlukpun dari penjagaan dan pemeliharaanNya, mulai dari yang terkecil yang tersembunyi di kegelapan kedalaman lautan.. hingga yang paling besar yang memenuhi ruang semesta. Dari yg nampak di mata hingga yang tak terjangkau oleh panca indera. Sejak penciptaan mereka, hingga akhir waktunya...

Kamis

Dalam Lautan Kehendak


Kita senantiasa bergantung kepadaNya, sementara IA ndak membutuhkan siapapun atau apapun jua. Ketetapan, kenyataan hidup, perintah dan laranganNya, kebutuhan dan amalan kita, adalah bagian dari kehendak dan rencanaNya. Gusti Allah adalah pencipta dan pemelihara segala yang kasat mata dan tak kasat mata, dalam ruang dan waktu, dan di luar ruang dan waktu, sebelum sekarang, sekarang, dan yang akan datang.

Kita memohon kepadaNya agar membuat kita ridla dengan keputusanNya dan sabar dengan apa yang kita alami. Penderitaan atau ketersesatan adalah jalan sebab kepada rasa butuh kita, sehingga kita mau bertaubat dan berdoa kepadaNya, menangis dan mendamba kedekatan serta perhatianNya. Sesungguhnyalah amal dan kebutuhan kita bukanlah penyebab kemurahan dan rahmatNya. Mereka ada hanya untuk mengurangi rintangan dan hijab di depan hati kita, sehingga kita menjadi bisa melihat kemurahanNya. Takdir kita...adalah hasil dari bertumpuknya ketetapan, yang saling berhubungan dengan sarana sebab akibat. Sedangkan rahmat, cinta, dan keadilanNya adalah kekal abadi.

Pandanglah kenyataan hidup dengan mata batinmu, bukan dengan mata kepalamu. Maka semuanya akan terbuka bagimu kebenaran kalamNya dan kehendakNya. Tak ada sesuatupun yang sia-sia yang diciptakanNya, karena semuanya memiliki nilai dan hikmah bagi semua yang memahaminya. Tidak menyetujui datangnya musim panasNya, maka panas akan membakar kita. Tidak menyetujui musim dinginNya, maka dingin akan membekukan kita. Mengiyakan dan menerima keduanya akan melenyapkan sakit dan derita yang diakibatkannya.




Begitu juga dengan menyetujui dan mengiyakan dalam menerima bencana, akan menghilangkan kesusahan, penderitaan, kegundahan, kegelisahan, dan kekagetan saat turunnya bala dan petaka. Kesabaranmu adalah mutiara, yang tersembunyi di balik segala peristiwa. Hanya kepadaNya saja sandarkanlah kekuatan, untuk menjalani bentang kehidupan...




Diam..dan Saksikan Keindahan


Sesungguhnya setiap titik pada lintasan hidupmu adalah dalam rencana azaliNya. Setiap lintasan, setiap persimpangan dan persinggungan, adalah dalam kehendak dan rencanaNya yang paripurna. Setiap perjumpaan, kebersamaan, dan perpisahan bukanlah ketidaksengajaan. Takdir kita...adalah hasil dari bertumpuknya ketetapan, yang saling berhubungan dengan sarana sebab akibat. Kita merasa memilih dengan pengetahuan dan akal kita, tapi dalam keMahapengetahuanNya....semua "pilihan" adalah titik semata...

Rencana dan ketetapan-Nya tidak mungkin bisa ditolak oleh siapapun, juga tidak akan bisa dihalang-halangi oleh apapun. Menyerahlah, niscaya engkau akan bisa nyaman beristirahat. Engkau boleh saja menolak adanya malam dan siang, namun malam tetap akan menjelang, meski engkau membencinya, begitu pula siang. Keduanya tetap akan datang bagaimanapun sikapmu. Begitulah takdir akan terus berjalan, suka atau ndak suka.

Jika tiba malam kefakiran, maka terimalah dan ucapkan selamat tinggal kepada siang kekayaan. Jika datang malam kesakitan, maka terimalah dan ucapkan selamat tinggal kepada siang kesehatan. Jika tiba malam yang kau benci, maka terimalah dan ucapkan selamat tinggal pada siang yang kau sukai. Sambutlah malam sakit dan derita, kefakiran, kerendahan dan kehancuran kehormatanmu dengan hati yang lega. Jangan menolak apapun yang telah ditetapkanNya, karena engkau akan binasa, bahkan imanmu akan sirna, hatimu akan kotor ternoda. Jangan memberontak atau meronta, karena nuranimu akan nelangsa.

Memohonlah kepadaNya agar membuat kita ridla dengan keputusanNya dan sabar dengan apa yang kita alami. Penderitaan, kesalahan, dan ketersesatan..adalah jalan sebab kepada rasa butuh kita, sehingga kita mau bertaubat dan berdoa kepadaNya, menangis dan mendamba kedekatan serta perhatianNya. Bersikap tenanglah di hadapan takdirmu.

Diam. Niscaya akan kau saksikan keajaiban-keajaiban terungkap kepadamu. Diam. Maka akan kau saksikan bagaimana Gusti Allah mengubahmu, membolak-balik dirimu... dan mengurai keindahan dari balik semua yg berlaku...

Rabu

Merendahmu

Gusti Allah memberikan cobaan dalam berbagai rupa. Cobaan berupa kesenangan, cobaan berupa kedukaan. Cobaan dalam kesehatan, cobaan dalam kesakitan. Semuanya adalah caraNya untuk mendidik manusia makhluqNya. Cobaan adalah caraNya untuk mendekatkan mereka kepada IA. Karena dalam kesempitan manusia akan kembali merendah, bersujud, dan memohon kepadaNya.

Cobaan sakit dan kepedihan adalah jalan yang akan mengantarkan manusia kepada derajat yang lebih mulia. Kesadarannya akan keMahakuasaanNya, kesadaran bahwa hanya IA pemilik semua kekuatan, penyembuh, dan obat, bahwa hanya IA pemilik semua kehendak dan berkuasa atas semua kenyataan kehidupan...semua kesadaran itu akan mengangkat derajat manusia kepada kemuliaan di sisiNya.

Sesungguhnya, cobaan berupa kesempitan dan penderitaan adalah jauh lebih baik daripada cobaan berupa kelapangan, keberlimpahan, dan kesenangan dunia. Dalam kesempitan kita akan jatuh bersimpuh bersujud merendah kepadaNya. Dalam kesenangan kita sering lupa dan terlena.

Bukan penyakit yang jadi masalah. Bukan kesempitan yang membuat kita menderita. Tapi bagaimana hati ini mensikapi semuanya. Tabah, tawakkal dan berserah diri kepada keMahakuasaanNya. Ikhtiar adalah bentuk pengabdian kita sebagai seorang makhluq, tapi dalam tiap ikhtiar seyogianya kita penuhi dengan kesadaran bahwa semua ini semata adalah kehendakNya. Pasrahkan hati, timbang dan introspeksi diri. Dalam kesempitan, perbanyak bisikan memohon ampun. Dalam kesakitan, perbanyak bisikan taubat. Dalam kelapangan dan keberlimpahan, perbanyak sujud merendahmu di hadapan IA yang telah memberimu banyak karunia tanpa engkau minta.

Saat cobaan, adalah saat di mana gerbang istana sedang dibukaNya untukmu. Menunggumu melangkah menghampirinya, dan memasukinya dengan penuh merendahmu....hati dan jiwamu...