Rabu

Dunia Yang Sama

Dunia bergerak dalam irama yang sama sejak dulu kala. Ada kelahiran ada kematian. Ada kemegahan ada keterpurukan. Ada kegembiraan ada kesedihan. Ada kekayaan ada kemiskinan. Ada kelapangan ada kesempitan.

Siapa yang memasukkan dunia ke dalam hatinya, maka ia akan terus gelisah terombang-ambing oleh naik-turunnya. Siapa yang mengejar hanya-bahagia dan berlarian menghindari duka, maka ia akan terus kecewa. Karena bahagia abadi memang tidak dicipta untuk dunia ini. Suka duka suka duka..., demikian seterusnya. Siapa yang mengejar dunia, maka sesungguhnya dunia ini hanyalah sementara. Siapa yang mengejar kemegahan dunia dan kebagusan rupa, ia akan merasakan manisnya hanya dalam sekejap umurnya.


DIA yang telah menciptakan alam semesta ini, mulai dari makhluq yang terkecil di kedalaman lautan hingga yang memenuhi alam raya. IA Maha berkuasa untuk memelihara semuanya sebaik-baiknya, dan ilmuNya meliputi apa-apa yang tampak maupun yang tidak nyata. Gusti Alloh lah yang Maha kaya, Yang menjamin rizki semua makhluqNya…dari dahulu hingga akhir masa...bahkan menghidupi semut2 yang engkau temui di kamar mandimu. Apa yang mereka makan dari sana? Mereka terus berkembang biak dari hari ke hari, dari tahun ke tahun, dan sepanjang masa hidupnya.


Selasa

Kebaikan Yang Tak Terbaca

Tiada yang musti disesali, tiada yang musti di-grundeli. Karena semua kenyataan hidup adalah selalu dalam skenarioNya untuk kebaikan paripurna. “Kebaikan” dan “keburukan” menurut kita..hanyalah rekaan akal dan logika semata, yang terlahir dari sebatas pengetahuan kita tentang dunia bahkan tentang apa yang diperlukan oleh diri kita.

Sesungguhnyalah di balik “kehebatan” jangkauan perhitungan kita masih terbentang lautan pengetahuan yang tiada terbatas, yang tiada mungkin kita jelajahi karena ia begitu meluas bahkan melintasi semua ruang dan semua masa. Dari waktu azali hingga masa akhir nanti.

Kebaikan menurutNya adalah kebaikan paripurna, yang meliputi semua. Oleh karena itulah Gusti Allah mengingatkan kita untuk memasrahkan diri dan bersandar kepadaNya dalam keadaan-keadaan yang sulit. Akal dan pengetahuan kita, yang telah diberikanNya, bukan untuk mengalahkan takdirNya. Karena itu tak akan pernah bisa. Hanya ikhtiar sebatas kekuatan kita, tanpa memaksa-maksakan kemauan ego kita terhadap KehendakNya.

Ego kita selalu minta bergerak paling maju, berlari paling depan, berdiri paling tinggi. Padahal berlari di belakang, berjalan di tepian, atau bahkan berhenti…seringkali sesungguhnya lebih baik bagi kesehatan jiwa dan keselamatan perjalanan hati kita. Setiap saat dunia berubah, dan akal kita tak mungkin mengikuti semua perubahan arah. Hanya dengan memasrahkan diri kepada Gusti Allah Sang Pemelihara jagad raya, dan berbaiksangka kepada semua keputusanNya…maka kan diraih kemuliaan jiwa. Jika tidak di mata manusia, insya Allah mulia dalam keridlaanNya...

Berkejaran Angan-Angan

Berkejaran angan dalam hati. Dan sepanjang umurmu tak akan habis engkau menggapai semua angan dan khayalan. Kepastian menanti sementara engkau lalai dari mempersiapkannya. Jika tiba waktumu, maka matamu terbuka dan engkau kan melihat dengan sebenarnya melihat, bahwa dunia adalah canda tak nyata.

Ilusi menghadirkan bayangan dalam benakmu, seakan itu ada meski sebenarnya tiada. Bukan lapar dan dahaga, bukan sedih dan bahagia...tapi bagaimana engkau mengambil makna darinya. Kesempitan dan kelapangan adalah ujicoba, apakah engkau bisa menemukan arti di baliknya? Bahwa kemuliaan diri ada pada keikhlasan penerimaan, kesabaran menjalani, dan keberbaiksangkaan kepadaNYA.

Yang kasih sayangNYA sungguh melebihi kasihsayang ibunda...

Minggu

Mutiara Di Balik Peristiwa

Kesabaran adalah mutiara kehidupan, yang disembunyikanNya di balik fenomena hidup yang harus kita cari. Tersimpan hikmah yang besar di balik semua kilauan kenyataan hidup. Yang keseluruhannya merupakan perwujudan cahayaNya Yang Maha Suci. Yang cahayaNya menyinari seluruh alam semesta raya tanpa terkecuali. Tak satupun makhluq tersembunyi dari siraman CahayaNya. Semua adalah pantulan cahaya suciNya.

Pandanglah kenyataan hidup dengan mata hati, bukan dengan mata kepala ini. Maka semuanya akan terbuka kebenaran kalamNya dan kehendakNya. Tak ada sesuatupun yang sia-sia yang diciptakanNya, karena semuanya memiliki nilai dan hikmah bagi mereka yang memahaminya.

Kesabaran adalah mutiara, yang tersembunyi di balik segala peristiwa. Hanya kepada IA saja sandarkan kekuatan, untuk menjalani bentang kehidupan.

Dunia Satu Cerita


Dunia tak pernah berubah sepanjang bentangan sejarahnya. Kisah tak pernah menemukan episode yang berbeda tuk diceritakannya, dan manusia selalu saja menggunakan topeng yang itu-itu saja. Layar peradaban terus berganti, tetapi adegan tak pernah basi. Pesta, duka, tawa, airmata, kelahiran, kematian, kemuliaan, kebiadaban, kemakmuran, kemiskinan, kebijaksanaan, penindasan, kedamaian, pembantaian dan penjajahan, muda, menjadi tua, tabiat, hasrat, keinginan, angan, mimpi-mimpi... tak ada yang berubah semuanya tetap satu cerita.

Alatnya berbeda, sesuai apa yang diberikan oleh zaman. Setting-nya berbeda, sesuai dengan layar peradaban. Namun gerak hati tak pernah jauh dari duka, bahagia, duka, bahagia, duka, bahagia..demikian seterusnya gelombangnya membolak-balik mengangkat manusia dan menenggelamkannya.

Ilusi, fantasi, asumsi, bayangan dan harapan yang bertumpuk, terlahir ketika kita menyematkan nilai-nilai tertentu kepada situasi atau sesuatu. Menyenangkan, menyedihkan, membahagiakan, menyengsarakan, nikmat, bencana, tawa, air mata... Nilai-nilai serta pengalaman terus-menerus berubah. Dan hati kita terus-menerus dibolak-balik kenyataan.

Menyandarkan diri kepada perjuangan untuk meraih atau menolaknya, ternyata hanya akan membawa kita pada ketidakpastian yang membingungkan. Ilusi dan nilai yang kita berikan kepada setiap kejadian berubah sepanjang waktu. Bayangan datang dan pergi selalu. Bersibuk diri untuk mengejar atau menghindar justru semakin menjauhkan kita dari kelegaan dan kedamaian jiwa ...

Sabtu

Keinginan Adalah Dahaga Yang Tak Pernah Terpuaskan

Dimanakah bahagia? Mengapa ia seperti tiada? Mengapa ada derita? Mengapa harus ada airmata, sementara yang kita inginkan hanya tawa dan bahagia? Kemana bahagia harus dicari? Dimanakah ia bersembunyi? Mengapa bahagia tak abadi? Secepat ia datang, secepat itu pula ia pergi. Dan bahagia kembali berganti sepi....

Maka Siddharta, seorang putera brahmana, memulai perjalanannya mencari jawaban atas semuanya. Mencari kebenaran dan bahagia abadi. Mencari pembebasan dari segala bentuk kedukaan. Menanggalkan kekakuan ritual dan upacara-upacara pengorbanan, melangkah dalam kegundahan dan seribu pertanyaan. Ke mana harus mencari? jalan mana yang harus dilintasi?...

Bahkan menjadi murid sang Gotama (tokoh Siddharta lain yang nanti menjadi sang Buddha) tak pula menghilangkan kegundahannya. Kata Siddharta, kebenaran sejati dan pengetahuan tentang kebahagiaan abadi tak bisa diajarkan. Pencerahan harus terlahir dari dalam jiwa, tumbuh dari pengalaman melintasi beragam realita. Maka ia pun melangkah kembali memasuki dunia sehari-hari. Menjadi orang biasa.

Kehidupan pun menelannya dalam naik turun gelombangnya. Sejenak Siddharta terlempar ke awan-awan, untuk kemudian dihempaskan ke jalan-jalan kehinaan. Ia tenggelam dalam pesona cinta, tergila-gila, untuk kemudian diremuk redamkan dalam airmata. Sesaat ia bergelimang kuasa dan harta, sesaat kemudian tergilas roda-roda ketamakan dan kerakusan yang ia ciptakan. Kehidupan membolak-balik hatinya. Satu keinginan melahirkan keinginan berikutnya. Dahaga semakin tak terpuaskan. Bahagia dan duka silih-berganti menjeratnya. Tiada lagi kedamaian dan ketenangan abadi. Hanya kegelisahan dan letihnya hati.

Keinginan adalah dahaga yang tak pernah terpuaskan...